Saat ini petani kelapa sawit tidak saja penting tetapi juga memegang posisi strategis dalam rantai pasok produksi perkebunan sawit nasional indonesia guna memasok kebutuhan pasar minyak nabati di tingkat internasional. Data terbaru dari dirjenperkebunan kementerian pertanian republik indonesia ada 42% lahan kebun sawit di Indonesia dikelola oleh petani dan dan memproduksi sekitar 35 % dari minyak kelapa sawit mentah (CPO) nasional dari luas suluruhnya perkeubnan sawit nasional.

Faktor kondisi geografi indonesia yang sangat cocok dengan perkebunan kelapa sawit yang selanjutnya di tangkap sebagai berkah dan peluang bagi petani dalam mengembangkan tanaman kelapa sawit untuk mendukung perekonomian keluarga, selain kondisi geografi juga foktor perkembangan kebutuhan akan minyak nabati dunia khususnya minyak sawit yang terus berkembang dari hari kehari.

Pada sisi yang lain meningkatkan permintaan akan konsumsi minyak nabati tadi ternyata juga diikuti dengan semakin kritisnya konsumen akan minyak kelapa sawit yang harus berkelanjutan. Fakta terbaru pembeli CPO indonesia telah meningkatkan permintaan akan minyak sawit yang berkelanjutan seperti Eropa, yang diprediksi akan meminta 100% minyak sawit berkelanjutan pada tahun 2020. Sementara itu, India dan Cina pun mulai mendorong permintaan minyak sawit berkelanjutan sejak sekarang.

Kondisi ini mendorong petani sebagai bagian dari rantai pasok minyak sawit di indonesia dan pemangku kepentingan lainnya untuk memproduksi sawit berkelanjutan. Dalam hal membuktikan CPO dihasilakan pada perkebunan kelapa sawit dengan memperhatikan aspek lingkungan dan sosial juga ekonomi maka petani dan perusahaan mengikuti standar sertifikasi yaitu ISPO untuk nasional dan RSPO untuk internasional.

Keterlibatan petani dalam sistim sertifikasi baik ISPO maupun RSPO sangat rendah, beberapa faktor yang melarbelakangi ini salah satunya terkait dengan kemampuan petani dalam masuk dalam sertifikasi RSPO sangat rendah karena harus mengikuti prinsip dan criteria pada sistim sertifikasi tersebut. Kondisi ini menimbulkan petani kelapa sawit belum dapat menerapkan kaidah-kaidah praktek perkebunan yang berkelanjutan yang di tuntut oleh pembeli CPO.

Berdasarkan kondisi tersebut diatas, Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) bersama BIJAK, memiliki inisiatif bersama untuk meningkatkan kualitas pengelolaan areal bernilai konservasi tinggi Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value – HCV) dan Cadangan Karbon Tinggi (High Carbon Stock – HCS) di areal kebun kelapa sawit yang dikelola oleh petani swadaya. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pengelolaan HCV-HCS di areal tersebut adalah melalui penguatan kapasitas pelaku pengelola.  Penguatan kapasitas tersebut, dimulai dengan Panduan Teknis untuk Pekebun  Kelapa Sawit dalam Pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value – HCV) dan Cadangan Karbon Tinggi (High Carbon Stock – HCS) untuk mengantarkan petani dalam mencapai praktek-praktek berkelanjutan dalam pengelolaan kebun sawit.

Tujuan

Lokakarya Penulisan Panduan Teknis untuk Pekebun  Kelapa Sawit dalam Pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value – HCV) dan Cadangan Karbon Tinggi (High Carbon Stock – HCS) bertujuan untuk mendapatkan masukan dari berbagia pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, akademisi dan lembaga-lembaga yang saat ini fokus pada petani sawit dan isi berkelanjutan.

Tanggal dan Tempat Lokakarya

Acara Lokakarya Penulisan Panduan Teknis untuk Pekebun  Kelapa Sawit dalam Pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value – HCV) dan Cadangan Karbon Tinggi (High Carbon Stock – HCS) akan dilaksanakan pada :

Tanggal                       : Rabu, 21 Februari 2018

Waktu                            : 09.00 – 17.00

Lokasi kegiatan           : Redtop Hotel & Convention Center, Jl. Pecenongan Daerah
                                           Khusus Ibukota Jakarta

Lokakarya Menghadirkan :

  1. Perwakilan KLHK 
  2. Perwakilan Dirjenbun
  3. Perwakilan Akademisi
  4. Perwakilan Penggiat Isu HCV dan HCS
  5. Perwakilan Penggiat Sawit Berkelanjutan