Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi mengalami penurunan dalam seminggu terakhir.

Data dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Bungo untuk periode 10-16 Mei 2019 menunjukkan adanya penurunan harga TBS.

Pada periode 10-16 Mei 2019, harga TBS sawit untuk usia 3 tahun sebesar Rp 1.049,69, 4 tahun Rp 1.112,67, 5 tahun Rp 1.164,50, 6 tahun Rp 1.213,63, 7 tahun Rp 1.244,35, 8 tahun Rp 1.270,09, dan 9 tahun Rp 1.295,56. Untuk sawit berusia 10-20 tahun, sebesar Rp 1.333,82, usia 21-24 tahun Rp 1.292,49, dan 25 tahun ke atas Rp 1.231,00.

Pada periode sebelumnya, yaitu periode 3-9 Mei 2019, harga TBS sawit untuk usia 3 tahun sebesar Rp 1.073,48, usia 4 tahun Rp 1.137,17, usia 5 tahun Rp 1.190,20, usia 6 tahun Rp 1.240,46, usia 7 tahun Rp 1.271,86, usia 8 tahun Rp 1.298,11, dan usia 9 tahun Rp 1.324,18. Untuk sawit berusia 10-20 tahun, sebesar Rp 1.363,12, usia 21-24 tahun Rp 1.320,76, dan usia 25 tahun ke atas Rp 1.257,71.

Baca Juga : Harga Sawit Turun, Petani di Muarojambi Bingung Cari Utang

Selain TBS, penurunan harga juga terjadi pada CPO. Pada periode sebelumnya, harga CPO berada di Rp 6.415,35 sedangkan pada periode ini berada pada Rp 6.245,26.

Untuk harga rata-rata inti sawit, periode sebelumnya sebesar Rp 3.408,19, sedangan periode ini sebesar Rp 3.435,60.

Selain turunnya harga TBS dan CPO, produktivitas sawit saat ini juga sedang turun, sebab sedang masa trek.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas TPHP Bungo, Muhammad Hasbi menyampaikan, pihaknya terus berkoordinasi dengan petani maupun stakeholder.

Terkait dengan masa trek, kata dia, Dinas TPHP Bungo menganjurkan untuk penggunaan pupuk sesuai dengan yang direkomendasi.

“Karena masa trek ini selalu ada. Untuk itu, yang bisa kita lakukan hanya memberikan anjuran untuk menggunakan pupuk yang direkomendasikan,” katanya, Senin (13/5/2019).

Terkait harga yang turun, pihaknya mengaku tak punya wewenang untuk mengintervensi harga sawit. Namun, dia mengimbau agar petani menghindari calo dalam jual-beli sawit.

“Selain itu, kita juga mengimbau ke perusahaan atau stakeholder untuk membeli sawit dari petani yang ada di Bungo ini. Karena kalau ke perusahaan langsung, harga sawit itu menggunakan harga yang ditetapkan pemerintah, tidak berubah selama seminggu. Sedangkan kalau di calo, hari ini lain, besok lain pula harganya, karena panjang rantainya,” lanjutnya.

Hasbi juga menganjurkan agar petani juga membuat Koperasi Unit Desa (KUD). Hal itu bertujuan untuk menghindari calo dan mengetahui klasifikasi harga sawit.

Sumber : http://jambi.tribunnews.com