SAMARINDA – Rendahnya harga jual sawit Tandan Buah Segar (TBS) di level petani diakui Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) maupun Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim. Bahkan, harga yang diterima petani jauh di bawah harga penetapan pemerintah.

Dewan Pembina Gapki Kaltim Azmal Ridwan kepada Tribun, Rabu (30/1) mengatakan, agar harga TBS tidak jatuh petani bisa menggandeng koperasi, sehingga ada kesamaan harga antara petani satu dengan lainnya.

“Yang perlu digalakkan itu penjualan dikelola koperasi, sehingga harganya satu. Biar koperasi yang punya SPK (perjanjian kerjasama dengan pabrik),” ujar Azmal menyarankan.

Senada, Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Ujang Rachmad juga mendorong para petani menjalin kemitraan dengan pabrik. Ada kepastian kewajaran harga TBS, yang diterima oleh petani. “Makanya kita dorong petani swadaya ini bermitra dengan pabrik. Supaya ada kewajaran harga,” kata Ujang.

Pasalnya, harga TBS yang ditetapkan pemerintah, lanjut Ujang, hanya bisa diterapkan pada pekebun yang menjalin kerjasama dengan pabrik. Sementara, keluhan banyak datang dari petani swadaya yang tak punya kerjasama dengan pabrik.

Sementara, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim Muhamad Nur menuturkan, perlu ada pembinaan kepada petani sawit. Terutama dalam hal peningkatan produktivitas. Hal ini bertujuan mengantisipasi anjloknya harga TBS yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Yang pertama tentu produktivitas ditingkatkan, otomatis pendapatan pun meningkat. Yang susah, sudah tidak produktif, harga pun jatuh,” ucap Nur.

Pemerintah juga perlu memperkuat kelembagaan di level petani. Tujuannya, agar petani sawit mendapatkan harga yang wajar. Lantaran tak lagi harus melalui rantai panjang penjualan.

Tidak hanya itu, Nur juga menyarankan agar para petani diberikan pelatihan manajemen keuangan. Nur pernah meriset saat masih bertugas di BI, Riau. Dalam riset tersebut ditemukan harga sawit yang memang menurun, pada waktu-waktu tertentu.

“Jadi memang harga turun itu sudah biasa. Tapi, jika kita bikin grafik harga, waktu harga turun itu hanya sebentar saja. Jauh lebih banyak harga bagusnya,” ungkap Nur.

Dengan kondisi ini, petani harus mampu memanajemen keuangan, sehingga bisa mengantisipasi saat harga anjlok. “Begini, kan masa harga bagus, lebih banyak dari harga rendah. Nah, uang ini harus dimanajemen. Supaya, saat harga turun, petani tetap bisa beli pupuk, merawat pohon, dan memertahankan produktivitas,” ujar Nur.

Harga beli TBS sawit bulan ini menurut Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Kabupaten Paser Iwan Himawan, Rabu (30/1) sudah lebih baik dari bulan sebelumnya.

Masalahnya petani swadaya belum bermitra dengan perusahan pabrik minyak sawit, sehingga TBS petani swadaya hanya bisa dijual kepada pengepul. “Sebagai petani swadaya, TBS kita banyak dijual ke pengepul, makanya harganya di bawah harga ketetapan pemerintah,” kata Iwan.

Untuk bermitra, lanjut Iwan, petani swadaya harus membentuk lembaga koperasi dan memenuhi persyaratan sesuai standar Permentan 01/2018. Karena itu, Pemkab Paser sudah beberapa kali menggelar pertemuan untuk memfasilitasi petani swadaya bermitra dengan pabrik.

Salah satu persyaratan yang disebutkan Permentan 01/2018 adalah Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) pada kebun. Menurutnya, program STDB ini sudah lama, tetapi sampai sekarang belum disosialisasikan, apalagi melakukan pendataan di lapangan.

“STDB ini tugas dinas teknis. STDB ini sudah lama, sudah ada sejak zamannya Pak Abdul Rasyid menjadi Kepala Dinas Perkebunan, tapi tidak dilakukan karena pasar bebas (petani bebas menjual TBS tanpa bermitra), sehingga dampaknya ke petani,” katanya.

Sumber : http://kaltim.tribunnews.com/