Nasib Petani Kelapa Sawit terancam dengan turunya atau nyungsepnya harga Tandan Buah Segar (TBS). Perwakilan Petani Kelapa Sawit Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Yustus Laud mengungkapkan, saat ini harga TBS petani tinggal 700-800 per kilogram.

Selain harga yang menurun, lanjut dia, petani juga sangat kesulitan menjual TBS. “Karena beberapa Pabrik Kelapa Sawit tidak lagi menerima buah sawit dari petani, dengan alasan tangki penuh,” ujar Yustus, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (28/10/2018).

Akibatnya, banyak petani yang tidak lagi memupuk kebun miliknya. Di Sintang, Kalimantan Barat, lanjut dia, kondisi penurunan harga TBS sudah terjadi sejak 4 bulan terakhir.

Bahkan ada beberapa petani saat ini sudah piki-pikir untuk tidak memanen buah sawitnya, karena ongkos untuk panen sudah tidak lagi bisa ditutupi dengan harga TBS yang sangat murah ini.

“Kami sangat kecewa dengan pemerintah pusat, terutama karena tidak lagi memperhatikan nasib petani sawit,” ujarnya.
Dia mengatakan, boro-boro mau bahas Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) di kalangan petani, sebab untuk urusan rendahnya harga TBS saja pun tidak bisa ditanggapi oleh Pemerintah.

“Jangan lagi bicara capaian ISPO di petani, kalau haga TBS tidak ditanggapi. Saat ini saja kami sudah tidak bisa merawat kebun. Kami lebih mengutamakan biayah hidup keluarga sehari-hari,” ujar Yustus.
Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Kabupaten Sintang, Kornelius mengatakan, kondisi penuruhan harga TBS itu sudah disampaikannya sejak Bulan Juli lalu.

“Sejak Juli sudah ada tanda-tanda penurunan harga TBS, tapi pemerintah tidak menangapi. Saya berharap petani mulai bersatu, karena kalau ini terus berlanjut maka akan membuat banyak masalah di desa. Terutama bagi petani-petani, tidak punya uang lagi untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya,” tutur Kornelius.
Rencanya, lanjut Kornelius, persoalan ini juga akan dibawanya dalam acara Rembug Nasional Petani Kelapa Sawit, yang akan digelar Bulan November nanti di Jakarta.

“Yang paling penting adalah harga TBS dibahas. Kami meminta pemerintah serius mengurus ini. Kalau harga turun harga, kan pemerintah juga tahu banyak perusahaan yang tidak membeli harga sesuai dengan ketetatapan pemerintah. Kenapa perusahaan-perusahaan seperti itu tidak dijatuhi sanksi?” ujar Kornelius.

Kalau pun nantinya banyak pabrik yang akan tutup, lanjut Kornelius, dia berharap Pemerintah menyokong Koperasi Petani agar bisa mengelola TBS dan crude palm oil (CPO)-nya dengan mendirikan pabrik Koperasi Petani.
“Petani akan membantu mendirikan pabriknya,” ujar Kornelius.

Seraya memastikan akan hadiri Rembug Nasional Petani Kelapa Sawit Indonesia, Kornelius membawa 10 orang petani untuk mengikuti pertemuan bertema Merumuskan Program Perjuangan Petani Sawit Untuk Perbaikan Tata Kelola Perkebunan Rakyat Selama Moratorium Sawit itu.

“Kami anggap ini sangat urgen dan penting. Dan berharap teman-teman sesama petani sawit dari seluruh Indonesia bisa bergabung,” ujarnya.(JR)

Sumber : http://sinarkeadilan.com/harga-tanda-buah-segar-nyungsep-kehidupan-petani-kelapa-sawit-terancam/