Dalam perjalanan konsep pola kerjasama kemitraan usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia, selain terdapat keberhasilan, akan tetapi dalam temuan SPKS di lapangan tidak sedikit koperasi atau petani kelapa sawit yang terlibat konflik dan masalah dalam pelaksanaan kerjasama kemitraan dengan perusahaan perkebunan sebagai mitra, karena timbulnya praktek-praktek pelaksanaan kerjasama kemitraan yang tidak adil dan transparan. Dalam penelitian SPKS dan IHCS tahun 2016, menunjukkan bahwa petani pekebun swadaya atau mandiri muncul sebagai bentuk kritik atau kekecewaan terhadap praktik kemitraan usaha perkebunan, namun ada yang muncul justru ketika kemitraan usaha perkebunan dipandang menguntungkan. Akan tetapi tetap menimbulkan dampak yang berbeda antara petani pekebun peserta kemitraan dengan petani pekebun swadaya atau mandiri, khususnya dalam penentuan harga TBS. Disisi yang lain masalah deforestasi dan alih fungsi gambut oleh petani kelapa sawit erat kaitannya dengan skema kemitraan usaha perkebunan yang tidak adil. Seperti banyak petani plasma yang lari keluar dan menjual kebun kebun plasma mereka dan lebih memilih membangun kebun mandiri di luar skema. Sutrisno Badri dan Sumargana, dalam penelitiannya tentang PIR-Plasma menunjukkan terdapat ketergantungan dalam pengolahan TBS yang bersumber dari petani plasma oleh perusahaan inti, sehingga posisi tawar antara lembaga petani plasma dan perusahaan inti tidak seimbang . Ini diperkuat juga dengan temuan dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang memberikan penilaian tentang Kemitraan Usaha dalam sektor perkebunan sawit salah satunya adalah kinerja kemitraan dengan pola PIR yang selama ini terjadi menunjukkan posisi tawar pekebun tidak sebanding dengan perusahaan inti (unequal bargaining power) .

Berangkat dari pengalaman dan temuan dalam berbagai penelitian selama ini, maka diperlukan suatu pembaharuan ke depan terkait dengan model kerjasama kemitraan, SPKS mengadakan FORUM MULTI PIHAK untuk dengan harapan bahwa seluruh peserta forum mewakili beragam organisasi, lembaga dan individu dengan kepentingan dan perhatian dan konsen yang sama terhadap isu dan permasalahan di sektor perkebunan kelapa sawit, secara khusus tentang hubungan kerjasama kemitraan usaha perkebunan. Peserta dalam forum ini mampu memberikan kontribusi masukan untuk memperkaya identifikasi kerangka pikir, stategi implementasi yang dibutuhkan serta mulai melaksanakan konsep FAIR agar meningkatkan output pada seluruh lapisan masyarakat terutama untuk pengingkatan kerjasama yang baik dan berkelanjutan antara petani perusahaan dalam sektor kelapa sawit.